SekdaTV.Com, BALIKPAPAN – Ketua Komisi II DPRD Kota Balikpapan, Fauzi Adi Firmansyah, menyatakan dukungannya terhadap rencana Pemerintah Kota Balikpapan menggunakan Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk membantu pedagang yang terdampak kebakaran Pasar Sepinggan.
Menurut Fauzi, penggunaan BTT merupakan langkah yang tepat karena dana tersebut memang disiapkan untuk penanganan keadaan darurat, termasuk bencana nonalam seperti kebakaran.
"Kalau memang membutuhkan anggaran yang cepat, memang menggunakan BTT. Saya rasa tidak ada masalah karena salah satu fungsi BTT selain untuk bencana alam juga bisa digunakan untuk penanganan kebakaran," ujarnya, Senin (3/8/2026).
Ia menyebut, Pemerintah Kota Balikpapan masih memiliki alokasi BTT pada APBD 2026 yang nilainya sekitar Rp11 miliar sehingga dapat dimanfaatkan untuk percepatan penanganan dampak kebakaran.
Di sisi lain, Fauzi menyoroti persoalan banyaknya kios di Pasar Sepinggan yang tidak lagi aktif ditempati pedagang. Berdasarkan informasi yang dihimpun, dari sekitar 250 kios yang terdampak kebakaran, hanya sebagian kecil yang masih aktif digunakan untuk berjualan.
Menurutnya, kondisi tersebut sebenarnya telah menjadi perhatian Komisi II DPRD. Bahkan, beberapa waktu lalu pihaknya melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Sepinggan dan meminta Dinas Perdagangan memperbarui data jumlah kios aktif maupun yang sudah tidak beroperasi.
"Data itu penting karena berkaitan dengan pemeliharaan pasar maupun penerimaan retribusi. Kami sedang meminta data terbaru mengenai kios yang benar-benar aktif dan yang sudah tidak aktif," katanya.
Fauzi menilai kios yang tidak lagi dimanfaatkan pemiliknya sebaiknya dievaluasi. Apabila hanya disewakan tanpa digunakan untuk berdagang, pemerintah perlu mempertimbangkan agar kios tersebut dialihkan kepada pedagang lain yang benar-benar membutuhkan.
"Kalau memang sudah tidak mau berjualan dan hanya disewakan, lebih baik diserahkan kembali agar bisa diberikan kepada pedagang lain yang benar-benar ingin berusaha. Jangan sampai aset pasar menjadi mubazir," tegasnya.
Selain penanganan jangka pendek, Komisi II DPRD juga kembali mendorong Pemerintah Kota Balikpapan melakukan revitalisasi Pasar Sepinggan. Menurut Fauzi, selama ini perbaikan yang dilakukan hanya sebatas pemeliharaan rutin, sementara kondisi pasar sudah membutuhkan penataan secara menyeluruh, termasuk pemisahan zona pedagang basah dan kering.
"Sebenarnya Pasar Sepinggan sudah waktunya direvitalisasi. Kami sudah beberapa kali menyampaikan kepada pemerintah kota agar revitalisasi segera dilakukan. Namun memang terkendala keterbatasan anggaran," tandasnya.
Diberitakan sebelumnya, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Balikpapan memastikan sekitar 250 kios di Pasar Sepinggan terdampak kebakaran dari total 853 kios yang ada di pasar tersebut. Kepala Disdag Balikpapan, Haemusri Umar, mengatakan dari sekitar 250 kios yang terdampak, hanya sekitar 80 pedagang yang masih aktif berjualan sebelum kebakaran terjadi, dan mereka akan menjadi prioritas dalam penempatan di Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang segera dibangun.
"Tadi Pak Wali sudah menyampaikan akan dibangun TPS di lokasi ini. Kami meminta pedagang dan masyarakat sekitar bekerja sama agar proses percepatan pembangunan TPS dapat terlaksana dengan baik," katanya.
Terkait revitalisasi, Haemusri menyebut pelaksanaannya masih menunggu kebijakan pemerintah karena bergantung ketersediaan anggaran. Disdag memperkirakan proses pembersihan puing dan penataan lahan berlangsung sekitar satu bulan sebelum pembangunan TPS dimulai. Sejumlah alternatif pembiayaan TPS tengah dipertimbangkan, mulai dari BTT, pergeseran anggaran, hingga anggaran perubahan, dengan keputusan akhir di tangan Wali Kota.
Musibah kebakaran Pasar Sepinggan tak hanya menghanguskan lapak pedagang, tetapi juga menyisakan kisah pilu. Lisa, pedagang ikan, mengaku kehilangan dagangan senilai sekitar Rp10 juta akibat dijarah saat situasi kebakaran berlangsung.
"Saya belanja hari Kamis sekitar Rp10 juta untuk dijual hari Jumat. Waktu kebakaran saya panik sampai gemetaran dan lari keluar. Pas saya kembali, ikan saya sudah habis diambil orang," ujarnya.
Meski lapaknya tak rusak parah karena berdinding seng tebal, seluruh stok ikan yang baru dibelinya raib diduga akibat penjarahan. Lisa mengaku tak menyangka masih ada pihak yang memanfaatkan musibah untuk mengambil barang dagangan pedagang lain.
"Kami sedang kena musibah seperti ini, malah masih ada yang sempat menjarah barang-barang saya. Padahal modal itu saya kumpulkan dengan susah payah untuk usaha," katanya.
Meski demikian, Lisa menilai masih banyak pedagang lain yang terdampak lebih parah, karena kios mereka terbakar habis hingga tak sempat menyelamatkan apa pun. Usahanya di Pasar Sepinggan menjadi sumber penghidupan bagi keluarganya, termasuk dua anaknya yang juga berjualan di pasar tersebut dengan modal darinya.
"Kami berharap pemerintah segera membantu membangun kembali tempat jualan kami. Kami sudah tidak punya sumber penghasilan lain selain berjualan di pasar ini. Kalau tidak bisa berjualan lagi, bagaimana nasib kami ke depan dan anak-anak kami mau makan apa," pungkasnya.