16 Feb 2026 | Dilihat: 1580 Kali

Upacara Adat Tulude 2026 di Balikpapan, Jadi Momentum Refleksi Spiritual dan Pelestarian Tradisi Budaya

noeh21
      
Sekda TV sekdatv.com, Balikpapan - Perkumpulan Sangihe, Sitaro dan Talaud (PSST) Balikpapan menggelar Upacara adat Tulude 2026 di Gedung Pertemuan GPIB Maranatha Balikpapan, Senin (16/2/2026).
 
Kegiatan ini menjadi momentum silaturahmi sekaligus pelestarian budaya masyarakat Nusa Utara di kota Balikpapan.
 
Acara dibuka secara seremonial dengan menaburkan gendang oleh Ketua PSST Balikpapan, Ajay Panguleeng. Rangkaian acara diramaikan dengan arak-arakan kue adat Tamo, pembacaan syair-syair daerah, doa serta ungkapan syukur yang dipanjatkan secara bersama-sama.
 
Dalam kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Sitaro, Dolly Polimpung, Ketua Panitia Upacara Adat Tulude 2026, Seven Jon, serta para peserta yang hadir dalam upacara adat tulude.
 
Ketua Panitia Upacara Adat, Seven Jon mengatakan bahwa antusias peserta yang mengikuti upacara adat sangat luar biasa.
 
"Antusiasnya sangat luar biasa sekali. Rombongan adat tidak hanya datang dari Balikpapan, tetapi juga dari Banjarmasin, Samarinda, Bontang, Sangatta hingga Itci," terangnya.
 
Seven menambahkan, pelaksanaan upacara adat tahun ini tidak lepas dari kerja keras seluruh panitia. Berbagai tantangan dihadapi, terutama dalam memastikan prosesi adat berjalan sesuai rencana.

 
Ia berharap momentum Upacara Adat Tulude tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata, melainkan menjadi jembatan pembelajaran bagi generasi muda.
 
"Harapan kita, dengan menghadirkan para tokoh adat, anak-anak muda bisa memahami adat istiadat dan budaya kita. Kalau tidak dilestarikan, lama-lama bisa hilang. Kita ingin generasi ke depan tetap mengenal dan menjaga tradisi ini," tuturnya.
 
Senada dengan itu, Ketua PSST Balikpapan, Ajay Panguleeng, menegaskan bahwa Tulude bukan sekadar seremoni budaya, melainkan sarana edukasi dan refleksi spiritual.
 
Ia menjelaskan, pelaksanaan Tulude secara konsisten setiap tahun juga dimaksudkan untuk menghadirkan langsung nuansa budaya kepada generasi muda, termasuk mengenalkan lafal dan kekayaan bahasa Sangihe.
 
"Kita mengundang tokoh dari daerah supaya adik-adik generasi muda, bahkan secara nasional ini tahu, oh ternyata begini lafal kata bahasa dari orang Sangir," ujarnya.
 
Melalui perjumpaan budaya seperti ini, kata dia, generasi muda tidak hanya menyaksikan simbol dan ritual, tetapi juga memahami makna di balik setiap prosesi.
 
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Sitaro, Dolly Polimpung yang hadir mewakili Bupati Sitaro menyampaikan apresiasi mendalam atas konsistensi PSST dalam merawat tradisi.
 
Ia mengaku bangga melihat komunitas Nusa Utara di tanah rantau tetap memelihara adat istiadat warisan leluhur. 

 
Dolly mengatakan, keberlangsungan Tulude di perantauan menjadi bukti kuat bahwa identitas budaya tidak luntur oleh jarak dan waktu.
 
"Tentunya, saya sangat berbangga dengan komunitas yang memang sudah lama terbentuk ya seperti PSST dan bahkan komunitas nusa utara yang tetap memelihara adat istiadat dari leluhur," ujarnya.
 
Dolly menuturkan, secara makna, Tulude berasal dari kata menuhude yang berarti menolak. Makna tersebut dimaknai sebagai ajakan untuk menolak hal-hal yang tidak baik di tahun yang telah berlalu, sekaligus memperkuat komitmen menjalani tahun yang baru dengan semangat pembaruan.
 
"Dalam kehidupan kita, mungkin di tahun lalu ada hal-hal yang belum tepat atau belum tercapai. Di tahun 2026 ini, mari kita menolak yang tidak baik, meningkatkan yang baik, dan menyerahkan diri secara total kepada yang mempunyai kehidupan," ucapnya.
 
Ia menambahkan, semangat Tulude menjadi refleksi kolektif untuk bekerja lebih keras dan lebih sungguh-sungguh dalam menggapai harapan yang belum terwujud pada tahun sebelumnya.
 
Lebih lanjut, Dolly juga mengajak masyarakat Nusa Utara untuk terus mendukung program-program pemerintah di daerah tempat tinggal masing-masing, serta menjaga persatuan dan kesatuan sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
 
"Torang ada hidup di tanah rantau. Karena itu, jaga integritas sebagai orang yang tahu berbudaya. Tunjukkan dalam sikap dan perbuatan sehari-hari bahwa kita adalah bagian dari NKRI," pesannya.
 
Semangat Tulude yang digaungkan dalam prosesi tersebut menjadi pengingat bahwa budaya bukan sekadar warisan, melainkan identitas yang harus terus dijaga, dirawat, dan diwariskan lintas generasi. (Tim nusa utara tv)
Sentuh gambar untuk melihat lebih jelas