30 Okt 2026

Waspada Provokasi dan Anarkisme, Irjen Pol (P) Yehu Wangsajaya: Humanis Bukan Berarti Polisi Diam Saja, Usul Robot AI di Garis Depan Pengendalian Massa

noeh21
Ilustrasi gagasan pemolisian berbasis teknologi: robot humanoid dan robodog AI di barisan pengendalian massa, seperti diusulkan Irjen Pol (P) Yehu Wangsajaya. (Foto: Ilustrasi)
      
SekdaTV.Com || Jakarta – Purnawirawan Polri Irjen Pol (P) Dr. Drs. Yehu Wangsajaya, M.Kom. mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap provokasi dan anarkisme. Imbauan ini ia sampaikan menanggapi video di media sosial yang memperlihatkan seorang pendemo mencaci, merundung, dan menantang adu fisik enam anggota polisi berseragam lengkap yang berdiri diam.
 
Menurut Yehu, jika kejadian itu nyata, ada ancaman terhadap kedaulatan hukum. Ia menyebut jika video tersebut hanya simulasi latihan ujian mental di lembaga pendidikan, hal itu bisa dimaklumi.
 
Demokrasi Punya Etika dan Batas Hukum
 
Yehu merujuk sila ke-2 Pancasila tentang kemanusiaan yang adil dan beradab, serta Pasal 6 UU Nomor 9 Tahun 1998 yang mewajibkan penyampai pendapat menghormati moral dan menaati hukum. Mengkritik kebijakan adalah hak demokrasi, tetapi mencaci, mengintimidasi fisik, dan merendahkan aparat yang bertugas, menurutnya, merupakan tindak pidana sebagaimana Pasal 207, 212, dan 216 KUHP.
 
Humanis Tak Berarti Lemah
 
Ia menilai polisi humanis berarti mengayomi warga yang tertib, bukan diam saat hukum dilanggar. Sebagai pembanding, Yehu menyebut di Singapura dan Malaysia orang yang mencaci atau mengancam petugas langsung diborgol. Di Amerika Serikat, Jerman, dan Inggris, katanya, ada unit khusus yang cepat meringkus provokator yang menantang fisik petugas.
 
Taktik Provokasi
 
Yehu mengingatkan provokator sengaja memancing emosi polisi di depan kamera. Jika polisi membalas, videonya dipotong dan viral sehingga polisi dituduh brutal. Jika polisi diam, wibawa hukum bisa runtuh dan memicu keberanian massa melakukan vandalisme, perusakan fasilitas umum, hingga penjarahan. Ia mengajak masyarakat tidak mudah terhasut ajakan demo yang mengarah pada kekerasan.
 
Usul Robot AI di Barisan Dalmas
 
Agar anggota Polri tidak terus menjadi umpan provokasi, Yehu mengusulkan Polri mengadopsi robot humanoid dan anjing robot (robodog) berbasis AI di barisan terdepan pengendalian massa, seperti teknologi robotika dari Tiongkok. Keunggulannya menurut dia:
- Kebal provokasi: robot tidak punya emosi dan tidak lelah.
- Pemindaian wajah otomatis: kamera memindai wajah pelaku secara real-time ke database kependudukan untuk proses pidana.
- Melumpuhkan tanpa pelanggaran HAM: robot menembakkan jaring penangkap dan penanda khusus bila pendemo merusak dan menjarah.
 
Yehu mengajak masyarakat menjaga keluarga dan generasi muda agar tidak diperalat provokator, menghormati hukum, mendukung aparat yang tegas dan profesional, serta menyambut pemolisian modern berbasis teknologi.
Sentuh gambar untuk melihat lebih jelas